SAMBUTAN KEPALA SEKOLAH

  • Sambutan Ketua Yayasan

    Anto Ardiansyah

    SEBUAH KERANGKA

     

    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

    Bissmillahirohmanirrohimi.

    Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan  Maha Melihat hamba-hamba-Nya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, yang diutus dengan kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dengan izin-Nya, dan cahaya penerang bagi umatnya. Demi Allah, semoga selalu kita curahkan sholawat dan salam bagi Rasululloh Muhammad dan keluarganya beserta para pengikut nya.

    Tahun ini adalah tahun  baru  menuju ke arah yang lebih baik bagi Sekolahalam Auliya Kendal,  dengan ditelurkannya  sebuah program baru yaitu Majalah Sekolah, dan sebagai pembuka dari program baru ini kami akan mengupas sedikit mengenai pendidikan yang berkaitan dengan Sekolah Alam.

    Berawal pada tahun 2008 sebuah sekolah berdiri di kota Kendal dengan nama LPIT (Lembaga Pendidikan Islam Terpadu) Auliya Kendal. Dengan konsep Islam Terpadu dan full day school. Seiring berjalannya waktu dan dengan terus berproses untuk lebih baik, maka sekolah ini pun kemudian mengusung konsep Sekolah Alam. Tepatnya sekitar tahun 2010-2011 konsep ini mulai di terapkan di sekolah ini.

    Mengapa konsep ini ?

    Seperti yang disampaikan oleh seorang filsuf Cina, “Sekolah merupakan masa depan suatu Negara dalam bentuk kecil” (Tehyi Hsieh). Akan kah Negara ini terus-terusan di penuhi dengan budaya menjilat dan korup ? Kita semua harus memulai suatu langkah kecil. Karena, perjalanan mengelilingi dunia dimulai dengan satu langkah kecil. Hal ini berkaitan dengan bentuk dan karakter suatu sekolah dalam menghadapi perkembangan zaman.

    Jika dulu konsep belajar kita adalah duduk menyimak guru yang menerangkan, namun  sesuai dengan perkembangan hal tersebut manjadikan anak-anak kurang kreatif. Sumber informasi saat ini bukan hanya Guru, tapi siapapun bisa menjadi guru dan tempat manapun bisa menjadi sekolah. Artinya, bahwa anak-anak bisa belajar apa saja, dengan siapa saja dan dimana saja. Kecanggihan tekhnologipun saat ini menciptakan  Netgeneration. Mereka terbiasa dengan budaya komunikasi yang serba cepat, dengan menggunakan berbagai fasilitas. Jejaring Sosial yang menyuguhkan informasi dengan cepat dapat mereka terima. Mereka yang terbiasa berinteraksi di dunia maya tersebut, di khawatirkan  menjadi generasi yang “diam” dan “kosong” yaitu generasi yang hanya tahu tapi tidak berbuat banyak. Berbagai informasi berseliweran di sekitar mereka entah itu informasi baik atupun buruk.  Lantas siapa yang akan mengontrolnya ? akan jadi apa Negara ini kemudian? Tanggung jawab siapa semua ini ?

    Karena guru bukan lagi satu-satunya sumber  belajar, hal ini mengubah sikap anak-anak terhadap Guru tentunya. Maka perlu suatu pendekatan pendidikan yang sesuai dengan semua fenomena ini. Guru harus bisa menjadi Role Model bagi  kehidupan anak-anak,  menjadi Fasilitator akan terbentuknya karakter anak-anak didiknya. Sehingga, Pendidikan haruslah berkarakter yang  penuh nilai-nilai luhur dengan mengedepankan Aqidah yang lurus serta Ahlaqul karimah. Karena hal tersebut adalah modal awal apapun profesinya kelak di harapkan tertanam kejujuran dan memiliki karakter yang baik.

    Dari buku “Belajar Bersama Alam” kita dapat membaca beberapa point penting mengenai Sekolah Alam, yaitu :

    “Sesungguhnya penciptaan Langit dan Bumi, silih bergantinya Malam dan Siang, Bahtera yang berlayar di laut membawa membawa apa yang berguna bagi Manusia, dan Alloh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) – nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang di kendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Alloh) bagi kaum yang memikirkan.” QS Al Baqarah : 164.

    Jika kita lihat di saluran TV kabel pada channel – channel tentang Science dan Technology, Nampak di sana semua itu dikembangkan oleh manusia dari proses belajar penciptaan alam semesta.

    Sekolah haruslah menjadi sekolah yang sangat hidup, berjiwa, mengasyikan serta hangat. Sekolah yang seperti ini akan membuat anak didik betah untuk belajar, merasa dirinya selalu bermain (baca : belajar), sehingga kemauannya untuk belajar selalu tumbuh dan berkembang. Anak-anak sekolah dasar yang dengan semangat menjajakan hasil panen tanaman organiknya, dengan mantap tanpa canggung lagi. Ketika dagangannya akan di beli semuanya, dia menolak karena sebagain akan dihadiahkan untuk orangtuanya dirumah. Sungguh ini lah karakter seorang anak yang kelak akan membangun negeri ini dengan profesinya dan dengan kecintaannya pada orangtua, ber-Aqidah Lurus dan Akhlaqul Kharimah.

    Jika kita berbicara tetang Sekolah Alam maka kita tidak akan lepas dari sosok penggasnya yaitu, Bapak Lendonovo. Sekolah Alam adalah sebuah konsep pendidikan yang mengusung  pendidikan total, dan sungguh sangat aplikatif, Konsep ini mampu bersenyawa dan bersifat lentur tanpa kehilangan jati diri. Enam tujuan pendidikan hakiki dan pendidikan totalitas meliputi :

    1. Berakidah yang lurus
    2. Berakhlak mulia
    3. Mencintai lingkungan
    4. Berjiwa kepemimpinan
    5. Berbisnis
    6. Pintar di bidangnya masing-masing

    Dengan 6 point ini diharapkan kelak akan muncul generasi yang ahli di bidangnya masing-masing dengan pribadi yang jujur, baik dan terus bermanfaat untuk alam semesta.

    Filosofi belajar bersama alam adalah kenali diri kita sendiri, nanti kau akan kenali Tuhanmu. Kenali diri sendiri untuk kemudian bisa bermanfaat kepada yang lain. Setiap anak adalah juara, maka setiap daerah pun adalah juara. Bukan independen lagi, tetapi INTERDEPENDENSI. Saling tahu, saling hormat, saling membutuhkan, saling kerjasama.

     Kita tidak ingin melahirkan anak yang kita kerdilkan potensinya bukan ? harus lebih hati-hati, jangan-jangan kita sudah termasuk barisan guru atau orangtua yang membonsai calon bintang terang menjadi sebuah “buku ensiklopedia berjalan” ! ini kejahatan kemanusiaan.

    Kita berharap akan lahir anak-anak yang utuh, yang gembira, yang mencintai guru dan teman-temannya. Anak – anak  yang tak ragu memimpin, yang terbiasa mencintai lingkungan, dan biasa mendiri dengan berdagang, Anak-anak yang berbahagia dan percaya diri. Dan yang pasti anak-anak yang siap menjadi pemakmur bumi, dan pemberi sebanyak-banyaknya manfaat kepada sesama !

     Jadilah bagian dari perubah peradaban !!

    Wassalam

    Oleh : Anto Ardiansyah

    Sumber :

    • Suhendi dan Septriana Murdiani, 2012. Belajar Bersama Alam. Bogor, SoU Publisher.
    • Tim Jurnalis Sekolah Alam Lampung, 2013. Sekolah Asyik. Lampung, Sekolah Alam Lampung.