Secercah Harapan dari Kepompong Kecil

  • Secercah Harapan dari Kepompong Kecil

    Oleh: Ibnu Muhammad

     Semua sudah berkumpul. Waktu yang direncanakan untuk berangkat sudah tiba. Namun ada satu ustaz yang belum terlihat, Ustaz Likan. Beberapa ustaz yang lain mencoba menghubunginya, tapi sia-sia. Nomor yang dihubungi ternyata tidak aktif. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu lima belas menit lagi. Semua barang sudah dinaikkan ke dalam truk. Semua anak juga sudah naik. Wali santri masih banyak yang menunggu keberangkatan putra-putrinya. Diantara mereka ada yang mengambil gambar putra tercintanya, sambil terus berdoa dalam hati untuk keselamatannya.

     

    Lima belas menit berlalu, ustaz Likan belum terlihat juga. Akhirnya diputuskan untuk berangkat. Doa naik kendaraanpun dilafalkan. Orang tua melepas kepergian putra putrinya sambil terus berdoa untuk keselamatan mereka. Di tengah perjalanan, terdengar kabar bahwa ustaz Likan menyusul. Kemudian saya meminta supir untuk berhenti di Kaliwungu, di mana Ustazah Alif juga sedang menunggu kedatangan truk. Beberapa saat kemudian ustaz Likan datang dengan motornya. Hal yang perlu dilakukan berikutnya adalah mencari penitipan motor, yang menurut saya di daerah pasar Gladak memang tidak ada. Saya teringat teman saya yang rumahnya di daerah Protomulyo. Ternyata setelah diketuk pintunya dan mengucap salam beberapa kali tidak kunjung ada jawaban. Lalu saya putuskan untuk terus jalan sambil mencari-cari penitipan motor terdekat yang akhirnya saya temukan di dekat SMP 1 Limbangan, di daerah perkebunan karet. Di sanalah kami menunggu truk rombongan.

     

    Perjalanan dilanjutkan dalam keadaan hujan lebat melewati jalan berkelok dan terjal  hingga pemberhentian terakhir. Sesekali saya dan teman ustaz yang lain harus menahan atau mengeluarkan genangan air dari terpal penutup truk yang menggembung. Semua dilakukan untuk kenyamanan anak-anak. Setibanya di Medini kami salat Asar. Di lanjutkan briefing pembagian kelompok dan pemanasan sebelum jalan. Tak lupa kami berdoa untuk kelancaran perjalanan, memohon keselamatan atas kami semua dari awal sampai akhir, hingga kembali ke rumah masing-masing.

     

    Perjalananpun dimulai. Sesuatu yang menegangkan. Perjalanan yang mungkin baru pertama kali para santri lakukan. Dengan beban ransel di punggung. Tanpa orang tua. Di sore menjelang Magrib. Dalam cuaca mendung. Gerimis. Basah. Dibalik itu semua, terlihat tekad membara dari anak-anak untuk mendaki Gunung Ungaran. Mereka, Mas Avis, Mas Bagus, Mbak Beta, Mas Fata, Mas Gigim, Mas Khoiru, Mbak Manda, Mas Naja, Mas Rizal, Mas Umar dan Mbak Vanda penuh semangat melakukan ekspedisi ini. Mereka terus berjalan mengikuti leader yang paling depan. Sesekali mereka meminta  break. Istirahat sejenak, sekedar melepas lelah dan minum seteguk air. Beberapa menit menjelang Magrib, kami sudah sampai di dekat air terjun, tempat direncanakannya salat Magrib.

     

    Kami berhenti untuk istirahat sambil menunggu waktu Magrib tiba. Lalu kami mengambil air wudu dan berjamaah. Karena tempat yang terbatas, jamaah dibagi menjadi dua kloter. Selesai jamaah, semua bersiap melanjutkan perjalanan. Perlengkapan salat dilipat dan dimasukkan ke dalam tas, ponco yang tadinya dijadikan alas untuk salat, sebagian ada yang dilipat, sebagian ada yang dipakai lagi, untuk persiapan ketika hujan datang tiba-tiba. Tas siap di pundak, senter dinyalakan. Bismillah, kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan satu-satu karena medan yang hanya jalan setapak. Tak lama kemudian kami menemui jalan menanjak dan licin, dengan hati-hati kami menaikinya. Alhamdulillah, kami semua dapat melewatinya.

     

    Setelah perjalanan panjang melewati semak belukar, tepi jurang, jalan terjal, naik-turun, licin dan berbatu akhirnya tibalah kami semua di sebuah perkampungan. Promasan namanya. Perlu diketahui bahwa Promasan ini masih masuk wilayah di Kabupaten Kendal. Wow…! Keren bukan? Ternyata Kendal kita tercinta ini punya potensi wisata yang Subhanallah. Apabila ini dikelola dengan baik dan bertanggung jawab serta memerhatikan keseimbangan alam, Kendal pasti bisa semakin maju dan sejahtera. Di sana, di rumah Pak Min inilah kami beristirahat. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan agenda berikutnya, yaitu salat Isya berjamaah dan refleksi kemudian dilanjutkan renungan malam. Di moment inilah, menurut saya yang paling berkesan dan Insyaalloh mengena di hati anak-anak. Jadilah mereka anak-anak yang tangguh dalam menjalani hidup, namun tetap ingat pengorbanan, jerih payah dan doa orang tua. Jadilah mereka calon pemimpin yang mampu membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Amiin

     

    Setelah selesai jamaah Isya, saya membagi anak-anak menjadi dua kelompok, meminta satu kelompok untuk kembali ke basecamp Pak Min. Di sana akan ditemani sekitar lima orang ustaz-ustazah yang siap untuk merefleksi perjalanan mereka dari awal hingga sampai di basecamp. Satu kelompok tetap di masjid bersama beberapa ustaz-ustazah yang tersisa. Satu per satu santri diminta menyampaikan apapun yang mereka rasakan, mereka bebas menyampaikan apapun yang mau mereka sampaikan. Setelah itu, masing-masing guru yang mendampingi mereka, yang bersama mereka saat itu satu persatu merefleksi, memberikan motivasi, membesarkan hati mereka bahwa mereka pasti mampu sampai ke puncak, bahwa perjalanan mendaki adalah sama dengan perjalanan hidup, bahwa mereka akan menemukan kesulitan-kesulitan, jalan terjal, naik-turun, kegagalan demi kegagalan sebelum mereka akhirnya mencapai puncak kesuksesan. Setelah sepuluh menit, mereka bertukar tempat, santri yang di masjid kembali ke basecamp dan yang di basecamp menuju ke masjid untuk menimba ilmu dari ustaz dan ustazah yang lain. Kenapa dibuat seperti ini? Sengaja dibuat seperti itu supaya santri dapat belajar lebih banyak dari guru yang berbeda. Prinsipnya, setiap orang pasti punya suatu hal yang baik yang dapat diambil dan diaplikasikan untuk diri sendiri. Dan supaya santri dapat belajar “lihat omongannya, jangan melihat orangnya”. Sepuluh menit berlalu, santri yang di basecamp bersama ustaz-ustazah kembali lagi ke masjid untuk mengikuti renungan.

     

    Lampu dimatikan. Ustaz Adi mengawali. Beberapa menit kemudian, di saat Ustaz Adi merasa cukup dengan pesan-pesannya, Ustaz Adi mempersilakan Ustaz Nazi untuk melanjutkan renungan. Karena melihat Ustaz Nazi sepertinya belum ada yang mau disampaikan, bahkan cenderung menolak dan diam agak lama saya berinisiatif angkat bicara. Maaf ya ustaz Nazi … Sebenarnya, yang saya sampaikan itu untuk saya sendiri. Di usia yang ke sekian, saya merasa belum dapat membahagiakan orang tua, belum dapat membuat mereka bangga. Padahal, mereka sejak dari kecil merawat dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang, pengorbanan, usaha dan doa yang terus menerus. Bahkan sampai saat ini, Bapak Ibu selalu berdoa untuk anak-anaknya, semoga selalu diberi kesehatan, dimudahkan segala urusan, dilancarkan rizkinya, menjadi orang yang sukses, sukses dunia dan sukses akhirat, menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Tanpa disadari, air mata mengalir di pipi. Sadar akan kealpaan diri. Diikuti oleh derai tangis dari para santri. Ternyata mereka pun merasakan hal yang sama. Seringnya tidak mematuhi orang tua, menolak ketika dimintai tolong, berteriak bila keinginannya tidak diluluskan. Dalam keadaan jauh dari orang tua seperti saat itu, terbayang wajah kedua orang tua yang mungkin saat itu tidak dapat tidur, memikirkan keadaan putra-putrinya. Mungkin mereka tidak dapat tidur, mendoakan keselamatan putra-putrinya.

     

    Renungan diakhiri dengan bersalam-salaman, memberikan dukungan, semangat dan keyakinan kepada para santri bahwa mereka dapat melewati semua dengan lancar.