PERJALANANKU DI SAKE

  • PERJALANANKU DI SAKE

           Perjalanan selama kurang lebih 2 tahun di Sekolah Alam Auliya Kendal membuat diri saya secara pribadi menjadi lebih termotivasi baik secara lahiriyah maupun batiniyah.  Awalnya saya tidak mengetahui tentang sekolah alam, apa bedanya sekolah alam dengan sekolah pada umumnya. Saya tertarik saat lewat didepan SAKe (kemudian saya akan menyebutnya) waktu itu pagi-pagi saya melihat di depan sekolah ada beberapa guru yang berdiri berjajar menyambut, menyalami anak-anak didiknya yang baru datang satu-satu. Hal itu yang jarang sekali bisa dilihat dilingkungan kendal. Saya berfikir hal itu merupakan ciri khas Islam  bahwa setiap kali ketemu senyum,ucap salam dan salim. Berarti sekolah alam ini merupakan sekolah Islam.

           Juni 2014 saya di percaya bergabung di SAKe, saya yang belum mengerti tentang konsep dan cara mengajar di sekolah alam sedikit demi sedikit dengan bimbingan teman-teman ustadz-ustadzah  (kami menyebutnya) saya banyak belajar. 3 bulan awal saya dipercaya membimbing anak-anak KB, disini saya mulai kagum  ternyata anak KB pun mampu untuk di bimbing mandiri, ketika butuh tidak semua harus dilayani, namun diarahkan untuk berusaha dan nyatanya bisa. Anak KB juga mampu  memahami tentang alam dan sekitarnya, kebersihan yang harus di jaga dsb. Karena dalam konsep sekolah alam  menggunakan  alam   sebagai  ruang belajar, alam  sebagai media dan bahan ajar serta alam sebagai objek pembelajaran . Melihat anak-anak KB mengikuti pembelajaran gardening begitu kagum diri ini karena belum pernah lihat sebelumnya di sekolah lain anak-anak setingkat KB gardening dengan atribut lengkapnya.

           Pun ustadz-ustadzahnya selalu di upgrade dengan ilmu-ilmu tentang belajar bersama alam, tentang menjadi guru hebat  dst yang sesuai dengan kaidah Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Setahun kemudian saya ketemu dengan anak-anak yang  dulu di KB, namun kali ini di TK A, anak-anak yang hebat dan mempunyai karakter yang khas sendiri-sendiri, yang kompak dan saling membantu sama lain.

           Mbak Putri yang selalu rajin membantu ustadzah. mas Fakhri yang  kritis, mas Fakhri iya Fakhri namanya anak ini aktif, dia mempunyai penyakit alergi telur awalnya saya sepengetahuan kami alerginya hanya setiap kali makan telur namun ketika itu kelas kami di TK A Nindai (nama kelas kami) sedang funcooking membuat bakwan jagung, di dalam adonan bahannya pakai telur saat penggorengan mas Fakhri mendekati ustadzah karena mau membantu  tidak selang lama matanya gatel dan memerah, saya panik anak kenapa kok matanya dikucek-kucek terus hingga memerah banget, setelah itu saya memintanya untuk minum air putih. Tidak lama  kemudian seluruh badannya gatel dan memerah semua hingga matanya terlihat besar dan merah, bibirnya juga membesar dan merah, badannya muncul bintik-bintik merah dan terus digaruk. Alhamdulillah tertangani, ternyata alerginya mas Fakhri tidak hanya makan telur tetapi juga setiap kali ada yang goreng aromanya mengena pada tubuhnya langsung tubuhnya terkontaminasi. Ouh saya baru mengetahui ada penyakit seperti ini, jadi ini mampu untuk belajar teman-teman sekelasnya bahwa kita yang sehat dan tidak alergi terhadap apapun harus bersyukur kepada Allah dengan  tidak pilih-pilih makanan.  Mbak Nanda yang selalu aktif menjawab setiap kali ada pertanyaan dari ustadzah, mas Syabil dengan tingkahnya yang terkadang bikin tertawa, mas Ardha yang mudah banget menangis tetapi juga mudah diamnya, dan yang lainnya. tidak pernah terlupakan belajar bareng mereka dengan suka dukanya.

           Dan kini Alhamdulillah kita ketemu lagi di TK B, begitu masuk di TK B tidak harus menyesuaikan lagi hanya kelasnya saja yang pindah. Semoga keluarga besar TK B Muhammad Al-Fatih (nama kelasnya) menjadi anak-anak yang sesuai dengan harapan kita semua yaitu mampu menjadi Khalifah Allah di muka bumi ini, menjadi anak yang sholih/sholikah dan sukses dunia akhirat.

     

     

    Semoga silaturrahim ini akan selalu terjaga sampai kapanpun.