Senyum Tuhan Terlukis di Senyum Anak – Anak

  • Senyum Tuhan Terlukis di Senyum Anak – Anak

    Dunia pendidikan adalah hal yang tidak baru bagi semua orang, begitu juga bagiku. Karena memang dari kecil sudah mengalami dunia tersebut. Ada senang pasti ada kurang menyenangkannya juga waktu itu. Posisi yang dahulu sebagai seorang siswa, sangat berbeda dengan posisi sekarang yang sebagai seorang guru. Ya, aku sekarang seorang guru.

                Aku suka dengan anak-anak, suka dengan kepolosan mereka yang membuat dunia ini terasa berbeda. Dunia anak-anak adalah dunia kejujuran. Dunia yang walaupun ada tangisan, namun itu terasa bukanlah sebuah derita. Bukan seperti tangisan orang dewasa. Dari senyum mereka terasa bahwa hidup ini indah. Dari tawa yang terlontar tersampaikan sebuah anugerah sedang Alloh lukis pada mereka. Ajaib, itulah dunia anak-anak.

                Belajar mengajar, mungkin itu sebuah kalimat yang masih pas untukku. Walaupun latar belakang pendidikanku adalah untuk menjadi seorang pendidik, namun pada awalnya tidak terlintas olehku untuk menjadi seorang guru. Apalagi mengajar anak – anak, sungguh bukanlah sebuah cita – cita. Namun langkah kaki ini ternyata menapaki jalan yang tertulis untukku menjadi seorang guru. Lantas apakah aku harus menyesal? Tentu tidak. Aku bersyukur dianugerahi untuk merasakan dunia keajaiban yang tidak terlintas olehku sebelumnya. Belajar, dunia pendidikan memang untuk belajar. Akupun belajar banyak hal yang membuatku lebih bermanfaat, belajar lebih sabar, juga belajar merasakan bahwa tuhan hadir diantara senyum – senyum yang terkembang pada wajah anak – anak.

                Pendidikan itu harusnya menyenangkan, membuat anak – anak ingin tahu lebih banyak hal, bukan menghafal banyak hal yang mereka tidak tahu untuk apa hafalan mereka itu. Pikiranku berhamburan mencari cari jalan untuk menemukan kebahagiaan yang seharusnya anak – anak dapatkan dalam belajar. Akupun terlibat belajar, belajar untuk anak – anak hebat yang akupun mungkin kalah hebat dengan mereka. Bagaimana tidak hebat? Sedangkan tuhan selalu membimbing hati mereka, orang dewasalah yang terkadang tidak mampu membaca dan merasakannya.

     

                    Berkenalan dengan sekolah alam

                Aku mulai mengenalmu angin

                Saat engkau membelai wajah mungilnya

                Aku mulai mengenalmu tanah

                Ketika tubuh dan wajah mereka terhias olehmu

                Aku pun mulai mengenalmu air

                Basah tubuh mereka adalah anugerah

                Iya, aku mulai mengenal kalian

                Meski tlah lama kita bersama

                Karena aku tlah melupa

     

    Puisi diatas merupakan sedikit gambaran bagaimana ada banyak hal yang aku lewatkan dalam hidup. Alam yang selalu menyapa dan bersahabat ternyata tidak pernah aku hiraukan dan ku mengerti bahwa mereka telah membantuku untuk menapaki kehidupan selama ini. Lantas bagaimana mungkin aku akan mengenal tuhan? Bagaimana mungkin aku akan mensyukuri dengan penuh kesadaranku berbagai anugerah yang tuhan berikan, sedangkan aku tidak pernah menyadari dan memikirkannya.

                Sedikit demi sedikit ku coba mengenal alam. Mengenalnya dengan kesederhanaan dan kesadaran bahwa kita pun harus rukun dengan alam. Rukun mungkin terlalu  aneh di telinga orang – orang, namun aku suka, karena terkadang kita tanpa sadar mencela bahkan membenci alam. “haduh kenapa sih hujan turun?”, “panas kok berkepanjangan, tanamanku kekeringan jadinya”, “ah, debunya selalu tebal karena banyak angin”, dan sebagainya kalimat yang menyalahkan alam.

                 Sekolah alam Auliya Kendal, yang pertama kali terbesit di kepalaku adalah tempat belajar yang menyenangkan bagi anak – anak. Lingkungan yang sejuknya alami itu akan menyehatkan fisik anak – anak dan membuat mereka nyaman belajar, ujarku dalam hati. Ternyata di Kendal ada juga sekolah yang sejuk dan alami. Padahal sekolah ini berada di tengah kota. Ah pikiranku bertanya-tanya.

                Mengembalikan anak-anak kepada alam ciptaan Alloh untuk berkembang mengasah berbagai kemampuan intelektual dan spiritual mereka untuk menjadikan mereka anak-anak yang tangguh dikemudian hari. Tangguh dalam hal menjalani hidup dan menyelesaikan berbagai masalah dengan baik. Bukan tangguh dalam artian menjadi jagoan yang ditakuti oleh orang lain karena otot mereka.

                Mengajar anak-anak adalah hal baru bagiku saat pertama kali bergabung di sekolah Alam Auliya Kendal. Karena sebelumnya aku bekerja di perusahaan swasta yang ada di Kendal juga. Namun kecintaanku dengan anak-anak membuatku bersemangat untuk belajar bersama mereka. Aku menyebut belajar karena akupun baru pertama kalinya menjadi guru anak SD. Banyak hal-hal baru yang aku dapatkan dengan bersama mereka di kelas. Ada yang masih suka menangis, suka kabur dari kelas, minta selalu diperhatikan, dan banyak lagi tingkah polah anak-anak.

                Apakah aku bahagia? Tentu saja aku bahagia. Melihat tawa mereka membuat hati ini turut bahagia. Mungkin kebahagiaan itu dapat menular kepada orang yang berada di sekelilingnya. Berarti menjadi bahagia itu mudah bila hati ini rela dengan kebahagiaan orang lain.

                Dunia anak – anak sungguhlah dunia kebahagiaan. Itu seharusnya. Namun sekarang banyak anak yang ternyata kurang bahagia dengan dunianya. Atau sebenarnya lingkungan yang mempengaruhi ketidak bahagiaan mereka. Orang – orang dewasa membebani anak-anak  dengan berbagai hal sesuai keinginan para orang dewasa tersebut. Harusnya para orang tua sadar betapa kasih sayang dan perhatianlah yang seharusnya anak-anak dapatkan agar kebahagiaan anak-anak terwujud dengan indah. Bukan cita-cita orang tua untuk menjadikan anak “sesuatu” yang harus diwujudkan oleh anak-anak tersebut. 

                Di sekolah Alam Auliya Kendal anak-anak diarahkan kepada fitrah mereka sebagai anak-anak. Bukan sebagai seseorang yang harus mewujudkan “titipan” hasrat orang tua untuk menjadi seorang yang diidamkan orang tua tersebut dalam profesi yang orang tua anggap bergengsi. Namun anak-anak disini diarahkan untuk mengasah kemampuan mereka sendiri yang paling dikuasai dan disukai. Namun pendidikan akhlak juga tidak lepas dari mereka untuk dijadikan kompas hidup mereka dikemudian hari. Penanaman akhlakul karimah dengan cara pembiasaan diharapkan mampu menumbuhkan pemahaman dan ketaatan anak-anak untuk bersikap sesuai tuntunan agama secara sadar tanpa ada paksaan. Karena bila dengan paksaan, anak-anak akan menaati bila dalam pengawasan. Dan akan meninggalkan kebaikan bila mereka diluar pengamatan. Itu yang tidak diinginkan. Meskipun tidak sebentar untuk mewujudkannya, namun usaha dan doa selalu guru-guru lakukan agar tercapai generasi yang Islami baik jasmani dan rohani mereka. Karena anak-anak sekarang adalah pemimpin untuk masa depan, maka persiapan pun juga harus dari sekarang.

                Menjadi guru di sekolah Alam Auliya mencatatkan berbagai hal dalam hidupku. Catatan pertama adalah saat mengajar di kelas 2 SD. Dengan jumlah siswa 13 anak, kelas kami terasa agak sempit karena pada saat itu satu ruangan di atas dipakai untuk dua kelas. Kami berbagi ruang dengan kelas 3. Meskipun bagian kelas kami lebih lebar sedikit dari punya kelas 3, tetap saja terasa sempit bila pembelajaran yang menggunakan ruang kelas. Karakter siswanya pun bervariasi. Dari yang pendiam hingga yang aktif tidak bisa duduk tenang selama 5 menit saja. Ada juga yang sukanya berbeda pendapat dengan guru dan teman-temannya. Lucu juga terkadang bila ingat pendapatnya saat diminta menggambar yang digambar hanya coretan-coretan saja. Saat ditanya gambar apa itu jawabannya “itu adalah gambar abstrak”. Pertanyaan pun berlanjut tentang apakah abstrak itu? Jawabannya juga simpel bahwa abstrak itu ya seperti ini yang di gambar,hehe…

                Ada anak yang unik dengan pemikirannya sendiri ada pula anak yang tidak mau menulis dan membaca. Bahkan mendengarkan guru mengajar pun juga enggan. Segala rayuan dan jurus pemikat sudah dicoba, namun ternyata anak itu kebal,hehe… rasa minder dengan teman saat belajar membuatnya enggan belajar bersama. Cara face to face belajar pun kami gunakan meskipun belum maksimal hasilnya, namun sedikit usaha tersebut lebih meningkatkan kepercayaannya. Dan itu adalah sebuah catatan kegagalanku yang pertama menjadi guru.

    Tahun selanjutnya aku mengajar di kelas 3. Dengan siswa yang sama meskipun jumlah yang berkurang. Ruang kelas pun juga berbeda, sudah tidak berbagi lagi dengan kelas lain dalam satu ruangan. Alhamdulillah tentunya. Partner mengajar ku juga baru. Jadi aku mengawal anak-anak yang dari kelas 2 menuju kelas 3, dan partnerku adalah guru yang tadinya mengajar di kelas 3. Ada kejadian yang aku tidak pernah lupakan. Mungkin juga bagi siswaku tersebut. Pada saat itu kelas kami sedang belajar tentang tema sawah. Kami pun berjalan-jalan menyusuri pematang sawah di samping sekolah. Sekitar pukul 09.30 WIB kami mulai berjalan. Kami belajar matematika dengan cara menghitung jumlah petak sawah tersebut. Menghitung jumlah sekat tanaman padi dalam satu petaknya sekaligus menghitung panjang dan lebar salah satu petak sawah yang ada dengan jejak langkah masing-masing anak.

    Menghitung tinggi tanaman padi juga tak luput dari aktifitas kami dalam kegiatan pembelajaran. Ada pula mendata tanaman selain padi yang ada di sawah dan hewan apa yang anak-anak jumpai sepanjang perjalanan menyusuri pematang sawah. Di penghujung pematang dan jalan kampung, ada bagian pematang yang ternyata ambrol tergerus air. Walaupun hanya sepanjang setengah meter, namun ada juga yang takut untuk melompat agar bisa sampai di jalan kampung. Satu dua tiga anak laki-laki melompat dulu karena yang perempuan takut terjatuh. Pada awal-awal semuanya berjalan lancar, hingga anak laki-laki yang terakhir tidak mau melompat tetapi berjalan biasa saja dan akhirnya malah membuat pematang semakin ambrol. Anak-anak yang perempuan pada awalnya tidak mau melewati itu dan memilih akan balik arah lagi. Namun karena sudah jauh dan lumayan panas, akhirnya merekapun berani melewati pematang yang ambrol itu. Sepatu dijinjing ditangan, celana yang dipakaipun basah dan sedikit berlumpur. Namun alhamdulillah bisa melewati pematang tersebut. Eiit…ada satu anak perempuan yang masih takut dan tidak mau melepas sepatunya. Dengan disemangati teman-temannya dan dibantu, akhirnya dia mau juga melewati pematang tersebut. Karena untuk meloncat sudah tidak mungkin, dia melewati dengan berjalan dan masih memakai sepatunya. Satu dua langkah masih aman berjalan, selanjutnya sepatu kirinya lepas dan terbenam di dalam lumpur. Karena takut dan ingin sepatunya yang terbenam diambilkan, dia malah terjatuh dalam lumpur sawah. Pecahlah tangisannya. Teman-temannya tertawa karena melihat dia kotor oleh lumpur. Namun ada yang menawarkan diri mencarikan sepatu yang terbenam di lumpur. Aku pun mencari bersama anak-anak laki-laki. Ternyata dalam juga lumpur sawahnya, lebih dari lututku. Alih-alih membantu mencari sepatu, anak-anak malah semakin asik bermain lumpur dan air. Sehingga air yang melewati tanggul jebol tersebut semakin deras dan tak bisa dibendung lagi. Sawah disamping semakin terbenam air, akhirnya aku minta tolong kepada bapak petani yang kebetulan ada di sawah.

    Alhamdulillah sepatu yang terbenam ketemu. Celana dan bajuku basah serta kotor terkena lumpur. Anak-anak tetap gembira meskipun mereka menjebolkan tanggul pematang sawah sehingga sawah di sebelahnya kebanjiran. Setelah minta maaf kepada bapak tani, kami pulang menuju sekolah. Tidak ada lagi tangis, yang ada pakaian kotor dan kegembiraan.

    Sekarang mereka sudah kelas 5, namun apabila ditanya kejadian tersebut mereka antusias dan ada juga yang malu karena dulu menangis. Namun sawah yang dulu kami mengukir kenangan saat belajar sudah berganti dengan taman kota yang entah sejarah atau kenangan apakah yang nantinya akan kami ukir disana. Wallohu ‘alam.

    Tahun selanjutnya aku masih mengajar di kelas 3. Tentunya dengan anak-anak yang baru lagi. Namun partnerku masih sama, lumayanlah karena tinggal memperbaiki kekurangan di tahun sebelumnya saja apa-apa yang belum tercapai. Sedikit strategi yang berbeda juga karena jumlah siswa yang berbeda dan pastinya karakter yang berbeda pula dengan yang terdahulu.

    Secara garis besar untuk kelas ini tidak serame siswa kelas sebelumnya. Anak-anak lebih penurut walaupun ada beberapa yang suka tiduran saat pembelajaran berlangsung. Oh iya, walaupun terlihat kalem, mereka saat diajak trekking ke curug Semawur di daerah Plantungan Kendal, mereka semangat dan tangguh lhoo… padahal perjalanan dari desa terakhir sampai dengan curugnya sekitar 2 jam. Semangatnya luar biasa ternyata.

    Saat outing ke perkebunan pisang juga mereka antusias sekali. Walaupun kondisi perkebunan agak becek, mereka antusias belajar menanam dan mengamati berbagai jenis pisang. Apalagi kalau pas foto, langsung action deh,hehehe..

    Aku tidak full di kelas 3 ini, karena memasuki semester kedua ada kekosongan guru di kelas 5 akhirnya aku yang menghandle kelas 5. Siswa kelas 5 ini paling sedikit diantara semua kelas yang ada. Dengan jumlah 6 siswa yang terdiri dari 4 putri dan 2 putra kelas ini adalah pionir dari sekolah alam Auliya ini. Siswa yang pertama kali masuk sebenarnya 4 anak. Dua siswa lagi adalah pindahan dari SD di Weleri dan Pemalang.

    Seru tidak ya mengajar dengan jumlah siswa hanya 6 anak? Seru donk pastinya. Ada yang suka ngambek, pendiam, pengamat sekaligus komentator, perasa atau apa ya namanya? Mungkin penuh empati aja ya istilahnya? Ada juga yang kocak dengan bakat menggambar yang keren. Terutama menggambar mobil, keren deh hasilnya.

    Dalam semester kedua ini ada dua agenda besar yang harus dilaksanakan oleh anak-anak kelas 5 ini. Yang pertama adalah pendakian ke gunung Ungaran. Yang kedua adalah magang usaha. Untuk pendakian ke gunung sebenarnya aku agak sanksi karena fisik mereka yang kebetulan mempunyai kelebihan. Sedangkan untuk magang usaha mereka sudah pernah melakukan di semester awal, jadi aku tidak begitu merisaukan.

    Latihan fisik dengan sering berjalan-jalan dilakukan 2 bulan sebelum pendakian. Dari jalan-jalan di sekitar kota sambil belajar, hingga melakukan trekking kecil ke bukit yang ada di Kaliwungu. Mereka harus bertanggung jawab membawa bekal sesuai arahanku. Tidak ada yang boleh membawa uang juga pastinya. Semua harus dipersiapkan sebelum berangkat perjalanan. Namun pada kenyataannya ternyata aku tidak tega juga melihat mereka kekurangan bekal karena enggan membawa. Buka dompet dan jajan deh…

    Hari pendakian pun tiba, semua bersiap dengan perlengkapan masing-masing. Ada satu siswa yang ijin tidak ikut karena sakit. 4 anak putri dan 1 putra akhirnya yang berangkat. Dengan memberi keyakinan kepada para orang tua,dan minta doanya kami pun menuju pendakian. Perjalanan menggunakan mobil elsapek (L200) tidak semulus yang diperkirakan. Kami sampai di daerah Medini sudah maghrib. Molor 1 jam dari jadwal karena radiator mobil rusak. Setelah sholat maghrib perjalanan dimulai.

    Alhamdulillah cuaca cerah saat perjalanan kami ke puncak, padahal sempat mendung lho saat pemberangkatan. Alloh maha kuasa atas segala. Kami sampai basecamp promasan sudah pukul sepuluh malam. Agak lama memang perjalanannya karena kami santai agar anak-anak tidak terlalu kelelahan. Setelah istirahat sebentar dan sholat isya, perjalanan dilanjutkan kembali.

    Aku tidak ikut sampai puncak gunung Ungaran karena bertugas memasak makanan untuk sarapan bagi semua saat turun dari puncak. Alhamdulillah lewat alat HT aku bisa berkomunikasi dengan semua yang mendaki ke puncak. Dan anak-anak semuanya berhasil sampai puncak gunung Ungaran. Haru dan gembira sekali mendengar keberhasilan mereka. Sampai ingin rasanya memeluk satu per satu mereka atas kegigihan yang mereka tunjukkan, namun karena mereka sudah pada baligh ya aku ucapkan selamat saja. Dalam hati sebenarnya ingin lebih. Allohu akbar takbirku menyambut mereka. Benar-benar amazing, mereka yang kebanyakan manja ternyata mampu berjuang. Tentu semua juga tidak lepas dari peran para guru yang terus memberi semangat dan berusaha menjaga mereka dengan segala kemampuannya. Teman-teman yang hebat.

    Bila bercerita tentang perjalanan pendakian saja pastinya akan panjang, maka dari itu aku cukupkan sampai disini. Pastinya aku sangat bangga dan itu adalah momen yang tidak akan terlupakan dengan mereka. Selanjutnya masih dengan anak-anak kelas 5 ya, walaupun aku bersama mereka hanya sekitar 4 bulan tidak genap, namun banyak peristiwa yang tertorehkan bersama mereka. Salah satunya lagi saat melaksanakan magang usaha di sebuah perusahaan roti yang ada di Kendal. Dengan bersepeda ria mereka berangkat menuju tempat magang yang jaraknya sekitar 3 km. Dengan bersepeda pun ternyata mereka bisa on time sesuai dengan ketentuan perusahaan. Padahal bila di sekolah sering seperti karet alias muluuur… tapi saat magang mereka menunjukkan dedikasinya untuk tepat waktu. Begitulah, terkadang kita terlalu dini memberi cap pada seorang anak. Padahal mereka sebenarnya lebih dari apa yang kita perkirakan. Aku belajar dari mereka.

    Menanam adalah sebuah kegiatan yang seharusnya wajib bagi semua penghuni di sekolah alam Auliya. Karena menanam adalah jiwa dari sekolah alam. Mencintai, merawat dan membiakkan tanaman akan menyelamatkan bumi ini. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka menanam, namun apabila ada rumput atau pengganggu yang lain pada tanaman yang ada di polybag kami ya aku pun membersihkannya. Walaupun sekedar kegiatan membersihkan rumput, ternyata menular untuk menyirami. Namun belum begitu mempengaruhiku untuk menanam. Walaupun keinginan untuk menanam ada pastinya, suatu saat aku akan mampu untuk suka bertanam.

    Berkarya menggunakan barang-barang bekas juga merupakan keharusan yang ada di sekolah alam. Karena itu merupakan sebuah pengurangan limbah yang apabila tidak dikurangi akan merusak bumi ini. Aku suka berkreasi dengan barang-barang bekas. Dan biasanya kelasku adalah kelas yang paling tidak rapi dan sedikit jorok ( sedikit ya ) dengan berbagai barang-barang yang kalau orang lain sudah dibuang di tempat sampah. Tapi aku malah mengumpulkannya. Aku kumpulkan karena terkadang aku belum punya ide mau diapakan barang tersebut. Bila ditaruh di bank sampah takut hilang atau dijual, maka dari itu aku simpan di kelas. Sering ideku muncul saat melihat sesuatu terlebih dahulu,ada barang yang akan dibuang atau terkapar tidak bertuan ya aku ambil baru kemudian aku membuat sesuai ideku tersebut. Apapun akan bermanfaat bila ideku muncul pada suatu saat.

    Belajar di alam, belajar menggunakan alam, belajar dengan alam dan belajar bersama alam adalah konsep yang juga aku kenal karena berada di sekolah alam Auliya. Ternyata Alloh menyediakan ilmu yang sangat banyak di bumi ini, hanya di bumi saja manusia tidak akan tuntas bila mempelajarinya, apalagi seluruh alam ini. Maka tidaklah patut bila kita bersombong dengan ilmu yang masih sedikit kita kuasai namun merasa paling tahu segalanya. Na’udzubillah min dzalik. Belajar itu tidak sebatas menguasai buku teks, namun mempelajari kenyataan yang ada di sekitar kita adalah sebuah keharusan. Belajar bersama alam bisa dengan berbagai cara, mengaktualkan apa yang indera kita tangkap menjadi sebuah tulisan pun sudah termasuk belajar. Ilmu itu luas, tidak boleh dibatasi oleh buku.

    Banyak hal yang aku dapatkan selama bergabung di sekolah alam Auliya. Dari belajar dengan anak-anak hingga belajar dengan teman-teman guru yang semangat dan hebat tentunya. Konflik pastilah ada, itu juga termasuk dalam bagian belajar. Kebersamaan, rasa kekeluargaan adalah kebahagian yang tercipta dan menjadikan keluarga kedua dalam hidup ini. Bila Pegadaian mempunyai tagline “Mengatasi masalah tanpa masalah”, kami punya juga lho.. “Mengatasi masalah dengan cara yang indah”. Menebar kebaikan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, namun bila diusahakan secara bersama dan konsisten, insya Alloh akan tercipta kedamaian dimanapun kita berada.

    Pada acara-acara yang menggunakan panggung dan ilustrasi biasanya aku menjadi penanggung jawabnya. Mungkin karena sering memberi masukan bila ada sesuatu yang aku rasa kurang pas pada tempatnya, akhirnya teman-teman memintaku untuk menjadi penanggung jawabnya. Padahal banyak juga yang pandai menggambar dan membuat pernak-pernik yang lebih bagus dariku. Akhirnya akupun belajar dari teman-teman yang lebih pandai tersebut.

    Di sekolah alam Auliya juga ada pengembangan bakat bermusik anak-anak dengan menggunakan peralatan bekas atau rongsokan. Auliya Percussion adalah wadah bagi anak-anak yanng suka menabuh benda bekas menjadi sebuah simphoni yang asik dan penuh semangat. Kebetulan aku juga yang mengampu kelas perkusi tersebut. Pada awalnya aku terpilih juga karena hanya aku yang bisa memainkan gitar. Dan sampai sekarang aku tetap yang mengampu bersama pak Romdhon. Perform kami masih di sekitar kota Kendal saja. Untuk kedepannya kami ingin perkusi ini bisa mempunyai nama di luar kota Kendal. Semoga tercapai ya..

    Di sekolah alam Auliya aku mempunyai saudara meski tidak sekandung, mereka saling mendukung. Di sini pula aku mempunyai anak, meski bukan darah dagingku dan mereka ke pangkuan orang tua masing-masing bila sore tiba. Aku sayang mereka meski tidak terucap dalam kata-kata. Aku mempunyai keluarga baru untuk memperbaiki diri dan juga saling menyayangi.

    Aku belajar banyak tentang berbagai arti, dari orang-orang hebat yang berdedikasi hingga dari anak-anak yang merekapun sedang belajar mandiri. Dari banyak kesempatan dan peristiwa, semua adalah sumber belajar untuk koreksi dan memperbaiki diri. Kita tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang ternyata masih sedikit kita kuasai, namun kita harus membuat anak-anak untuk ingin tahu banyak hal.

    Pendidikan yang benar, lingkungan yang bersahabat dengan anak-anak akan melejitkan karunia Alloh yang telah dianugerahkan kepada mereka untuk muncul dengan cara yang menakjubkan. Guru bukanlah sumber segala ilmu, karena Alloh membentangkan semesta untuk manusia pelajari. ilmuNya melampaui semesta, kita yang perlu menggali dan tidak membatasi.

    Sekolah bukanlah penjara yang membatasi pemikiran dan keingintahuan manusia. Namun taman yang dari sanalah tumbuh para kholifah yang rahmatan lil ‘alamin. Sekolah bukanlah gudang pengap pengetahuan, namun lumbung kehidupan yang mampu memakmurkan peradaban.

    Senyum tuhan terlukis di senyum anak-anakmu

    Maka buatlah dia tersenyum