TIPS BUAT AYAH BUNDA UNTUK MENGHILANGKAN KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG BERPOTENSI TERJADINYA PERILAKU BURUK PADA ANAK

  • TIPS BUAT AYAH BUNDA UNTUK MENGHILANGKAN KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG BERPOTENSI TERJADINYA PERILAKU BURUK PADA ANAK

                    Semakin besar anak semakin susah untuk dingatkan. Kita menjadi tidak sabar bila menghadapi anak yang susah diingatkan, suka menawar bahkan  sering melawan. Ini adalah pernyataan yang sering kita dengar dari ayah bunda jaman sekarang.

                    Ayah bunda pastinya mengidamkan anaknya menjadi anak yang nurut, tidak suka menawar apalagi melawan. Tapi kenyataan tidak seideal harapan, bahkan sering kali anak melakukan tindakan yang sebaliknya .Diantaranya tidak bisa diam, susah diingatkan, bahkan ada juga ayah bunda yang merasa tidak nyaman dengan laporan dari pihak sekolah karena ternyata anaknya disekolah luar biasa usilnya. Selalu menjadi Trouble  Maker dan tidak jarang juga membully teman-temannya. Padahal dirumah dia dikenal sebagai anak yang tidak berperilaku seperti itu.

                    Sebaliknya dari sisi anak-anak, mereka dihadapkan pada ayah bunda yang tidak konsisten dengan ucapannya, misalnya melarang anaknya menonton TV , tapi disaat jam delapan justru orang tua yang menonton TV. Anak juga sering menghadapi ayah bundanya tidak kompak dalam persoalan yang sama, sehingga anak menjadi bingung sendiri.

                    Sebagai oang tua, terkadang kita sering mengabaikan  persoalan dari sisi anak maupun dari sisi ayah bunda. Padahal kita pernah menjadi anak-anak. Anak adalah bagaimana ayah bundanya, karena mereka adalah cermin abadi yang jujur, lalu dimana letak kekeliruannya?

    Berikut ini ada beberapa tips yang bisa menjadi teman ayah bunda dalam mendampingi putra – putrinya. Ada beberapa kebiasaan yang harus dihilangkan karena berpotensi munculnya perilaku buruk pada anak. Diantaranya:

     

    1. Cinta bunda tidak pernah salah
    • Kebiasaan keliru

    Hal yang sering dilakuakan orang tua saat anaknya terjatuh adalah dengan memukul lantai atau benda yang ditabrak dengan mengatakan  “siapa yang nakal “, “ ih kodoknya nakal “,  “ jangan nagis ya , ayah bunda sudah pukul yang buat ananda jatuh “.

    Ketika proses pemukulan terhadap benda tidak salah, sebenarnya kita telah mengajarkan bahwa dia tidak pernah bersalah. Yang salah adalah orang lain atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga dia dewasa , akibatnya setiap dia mengalami peristiwa dan terjadi sesuatu kekeliruan, maka yang salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar.

    • Yang seharusnya dilakukan

    Ajari anak untuk bertanggungjawab atas apa yang terjadi, katakan : “ mana yang sakit nak ? “ ( sambil mengelus bagian yang dirasa sakit ), “ sakit ya , sayang kurang hati-hati, lain kali jalannya pelan-pelan saja ya nak… “

     

    1. Banyak Mengancam
    • Kebiasaan keliru

    Perkataan ancaman  yang sering dikatakan orang tua pada anaknya diantaranya : “ kakak jangan usil sama adik lho, nanti ayah marah “ . “ Hayo adik jangan naik meja! Kalau jatuh bunda tidak mau nolong ! “ . Dari sisi anak, perkataan yang sifatnya melarang dan disampaikan dengan cara berteriak  sudah termasuk ancaman, apalagi kalau di tambahi “ nanti ayah marah lho “.

    • Yang seharusnya dilakukan

    Ketika mengingatkan anak, orang tua tidak perlu berteriak-teriak , dekati anak lalu hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita pada anak. Tatap matanya dengan lembut, perlihatkan ekspresi bahwa kita tidak senang tindakan mereka, lalu pertegas dengan kata-kata , “ ayah bunda mohon sama kakak untuk meminjamkan mainan ke adik, nanti ayah bunda akan makin sayang sama kakak, atau dengan pernyataan yang menjelaskan konsekuensi , misal “ kakak adik, bila kalian tidak saling berbagi, ayah bunda mau menyimpan mainannya, sehingga kalian tidak bisa bermain, akan ayah bunda keluarkan jika kalian sudah mau berbagi “. Tepati tindakan kita dengan perbuatan yang nyata.

     

    1. Sering Berbohong
    • Kebiasaan Keliru

    Tanpa sadar sebagai orang tua terkadang kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginan, misalnya : Pada saat kita terburu-buru berangkat kekantor dan anak mau ikut, kita lebih mudah berbohong dan mengalihkan perhatian anak dan buru-buru pergi. Lebih ekstrim lagi mengatakan , “ ayah bunda sebentar kok , hanya kedepan saja, sebentaaaar saja… “, ternyata pulangnya sampai malam.

    Dari contoh diatas, ternyata kalau kita sering berbohong dampaknya sangat besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita. Anak tidak dapat membedakan mana perkataan yang bisa dipercaya mana yang  tidak. Sehingga anak mulai tidak menuruti semua perkataan kita.

    • Yang seharusnya dilakukan

    Berkatalah yang jujur pada anak, ungkapkan dengan penuh kasih sayang dan pengertian. “ sayang, ayah bunda mau pergi ke kantor, kamu tidak bisa ikut, tapi kalau ayah bunda pergi ke kebun binatang kamu boleh ikut “. Kita tidak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu yang lebih untuk member pengertian pada anak karena biasanya mereka akan menangis. Anak menangis karena belum memahami keadaan kenapa ayah bundanya harus selalu pergi dipagi hari. Perlu kesabaran dan berikan pengertian pada anak secara terus menerus. Lama-lama anak akan mengerti keadaan ayah bundanya selalu pergi dipagi hari untuk bekerja dan anak tidak bisa ikut. Dan sebaliknya jika ayah bunda pergi ketempat lain, selain kantor anak boleh ikut. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu , anak akan mampu memahami yang kita katakan dan menuruti perkataan kita.

     

    1. Justru Merendahkan diri sendiri
    • Kebiasaan keliru

    Apa yang kita lakukan ketika anak melihat game atau DVD tanpa henti-hentinya, bahkan mengalahkan jam sholat, ngaji atau mandi. Mungkin kebanyakan dari kita akan mengatakan “ ayo matikan game, atau DVD nya…… awas ya, nanti dimarahi ayah kalau pulang kerja “

    Ketika kita mengatakan kalimat ancaman pada anak, tidak sadar kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu menghentikan bermain game atau menonton DVD adalah hanya seorang ayah. Artinya figure yang hanya ditakuti atau dihormati adalah sang ayah. Maka, sudah sangat jelas bahwa anak semakin tidak memperhatikan perkataan bunda, karena bunda tidak mampu menghentikan bermain game atau menonton TV.

    • Yang seharusnya dilakukan

    Siapkan aturan main sebelum sebelum kita bicara , setelah siap dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan serius, bahwa ayah bundanya ingin dia berhenti main sekarang, atau berikan pilihan pada anak, misalnya: “ sayang, ayah bunda ingin kamu mandi, kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi ?”. Bila jawabannya lima menit lagi, kita jawab “ baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi   ya,  tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa VCD nya ayah bunda simpan “. Setelah persis lima menit, dekati si anak tatap matanya dan katakan  sudah lima menit. Tanpa kompromi dan tawar menawar lagi, jika dia tidak menepati pilihannya, langsung laksanakan konsekuensinya segera.

     

    1. Suka menakut-nakuti anak
    • Kebiasaan keliru

    Kebiasaan ini sering dilakukan ayah bunda pada saat anak nangis dan berusaha untuk menenangkannya dengan perkataan misalnya, “ sudah diam, nanti kalau nangis terus di njus…( baca : suntik ) pak dokter lho…“.Atau ketika anak rewel minta dibelikan permen,kita terkadang mengancam untuk mengalihkan perhatiannya dengan mengatakan , “ enggak boleh beli permen, itu ada pak polisi, nanti kalau kamu beli permen pak polisinya datang ,lho“.  Anak memang cenderung untuk berhenti menangis dan menuruti ayah bunda, namun dengan ancaman dan menakut-nakutinya sebenarnya kita telah menanamkan rasa tidak suka atau benci pada pihak yang kita sebutkan. Dan kita juga sebenarnya telah merendahkan diri kita, bahwa kita tidak punya kuasa apa-apa untuk melarangnya.

    • Yang seharusnya dilakukan

    Berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak , seperti kita memberi pengertian kepada orang dewasa. Karena sesungguhnya anak-anak juga mampu berfikir dewasa. Jika anak minta dibelikan permen, katakan padanya jika terlalu banyak makan permen tidak baik karena dapat merusak gigi. Jelaskan pula bahan-bahan yang terkandung dalam permen seperti pemanis buatan, akibat yang ditimbulkan pada gigi dari pemanis buatan .  Jika anak memaksa katakana dengan pengertian, dan tataplah matanya . “ kamu boleh menangis, tapi ayah bunda tetap tidak akan membelikan permen “ . Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga dia diam dengan sendirinya.

     

    1. Mengajarkan anak untuk membalas
    • Kebiasaan keliru

    Bila anak kita dipukul temannya, kita sering ikut emosi dan memprovokasi anak untuk membalas dengan tindakan yang sama seperti temannnya. Alasannya hanya pukul dibalas pukul. Ingat bahwa emosi anak sensitif  dan kita mengajarkan membalas. Anak akan ingat terus hal –hal yang kita ajarkan, termasuk konsep membalas. Jangan kaget bila anak sering membalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan padanya.

    • Yang seharusnya dilakukan
    1. Lebih baik kita mengajarkan pada anak untuk menghindari teman-teman yang suka memukul
    2. Sampaikan pada orang tua yang bersangkutan atau pada guru ( jika terjadi di sekolah ) bahwa anak kita sering mendapat perlakuan yang tidak baik.
    3. Ajaklah oang tua yang mempunyai anak sering memukul untuk mengikuti program parenting disekolah, Radio atau media lain.

     

    Itulah beberapa tips yang bisa dijadikan solusi, atau jalan keluar ketika bapak ibu mendapati putra putinya sering melawan atau tidak menuruti perkataan yang kita ucapkan. Semoga bermanfaat…

     

    Nur Indah Tri setyowati