CIKAL BAKAL “BISNIS”

  • CIKAL BAKAL “BISNIS”

    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

    Bissmillahirohmanirrohimi.

     

    Bersamaan dengan penerbitan perdana Majalah Sekolah Alam Auliya Kendal ini. Salah satu dari Rubriknya adalah tentang Bisnis atau Entrepreneurship.

    Sebagai langkah awal untuk perkenalan mengenai dunia Entrepreneurship. Maka, kita akan mencoba untuk memaparkan  mengenai awal dari jiwa dan pemikiran Entrepreneurship.

    Masing-masing dari kita adalah pengusaha, yaitu  mengusahakan apa pun usaha (baca :kegiatan) yang menghasilkan dalam sisi materi. Ada sebagain dari kita yang telah melakoni usaha sebagai Pengusaha / Entrepreneur maupun menjadi pegawai. Semua itu diperlukan kestabilan untuk dapat memperoleh posisi yang lebih baik dan berkembang semakin pesat. Dengan harapan kita dapat lepas dari zona nyamannya. Sehingga kemudian kita dapat terus membuka peluang – peluang baru dan mengembangkannya serta  dapat bermanfaat untuk  orang  banyak.

    Berbicara mengenai hal tersebut di atas, maka kita akan masuk pada tahap awal atau cikal bakal untuk melangkah sukses menjadi  wira usahawan yang mumpuni. Mengapa hal ini menjadi cikal bakal ? Bicara tentang cikal bakal, maka kita sedang membicarakan tentang  “Mindset” (Baca : caraberfikir) yang dalam. Istilah bisnis disebut  “The Individual Entrepreneurial Mindset”, hal ini  yang akan mendorong seseorang keluar dari zona nyamannya untuk melakukan kegiatan wirausaha, menangkap peluang – peluang baru bahkan menciptakan peluang.

    Setelah  Mind set  tersebut muncul dalam  diri kita, sama dengan berharap kita memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi diri kita sendiri. Maka kita perlu untuk mengelolanya dan memiliki sikap yang  bagus terhadap  “Mindset”  tersebut agar melejitkan diri kita dalam beraktifitas wira usaha.

    Dalam banyak kesempatan, seminar – seminar dan buku-buku tentang wira usaha di sebutkan paling tidak ada tiga hal yang wajib tertanam dalam diri seorang wira usaha, yakni Imajinasi (Imagination), Fleksibilitas (flexibility), dan bersedia menerima resiko (Acceptance of Risk).

    Paling sering menjadi pertanyaan  dalam hal ini adalah mengenai bagaimana kita bisa menerima resiko yang akan muncul. Karena hal ini masih menjadi gambaran dan bayang-bayang hitam yang  selalu menyelimuti perasaan kita. Apakah usaha saya ini akan berhasil atau gagal ? karena ini berkaitan dengan investasi  yang  sudah di tanamkan.  Contohnya kita telah merasa habis – habisan dalam investasi dan hal tersebut kita lakukan pada bisnis atau bidang usaha yang sama sekali belum kita kenal.

    Jika kita menarik ke belakang  hal yang muncul dalam benak mengenai hal tersebut, maka kita dapat uraikan. Resiko tersebut merupakan sebuah probabilitas yang berpeluang “fifty – fifty” antara gagal atau berhasil.

    Jadi, bila hal seperti contoh di atas yang anda lakukan maka anda bukannya orang yang "berani mengambil resiko", tapi "kurang cerdas", karena peluang untuk gagal atau berhasil tidak "fifty-fifty" lagi tapi justru peluang untuk gagalnya makin meningkat.

    Di perlukan sikap positif dalam dalam berwirausaha. Bagaimana ?

    Menurut beberapa literatur, sikap positif pola pikir berwira usaha (The Individual Entreprenerial Mindset Right Attitude) antara lain :

    • Dapat bekerja tanpa  supervisi  (Able to work without supervision)
      Hal ini sangat erat kaitannya dengan kejujuran dan disiplin dalam diri kita, sehingga menimbulkan konsistensi  dalam  setiap kegiatan usaha dan pekerjaan.
       
    • Dapat memotivasi diri sendiri (Able to self-motivate)
      Hal ini berkaitan dengan  seberapa cepat kita kembali bangkit kembali setelah di terpa permasalahan. Lebih mudahnya  di sebut kekuatan untuk tidak mudah menyerah.
       
    • Dapat membuat keputusan  yang  cepat (Able to make quick decisions)
      Di perlukan tidak sekedar cepat namun juga harus tepat. Untuk hal ini di perlukan ketajaman analisa dan berfikir. Tidak kalah penting yaitu tidak menunda, agar dapat mengambil keputusan dengan cepat perlu adanya pembiasaan dan proses. Pengalaman cukup menentukan dalam point ini.
       
    • Mampu menghendle  stress (Able to handle stress)
      Upayakan untuk selalu berfikir dan bersikap positif. Sehingga akan lebih mudah untuk mengembalikan kondisi  yang sedang dalam tekanan.
       
    • Open-minded dan fleksible (Open-minded and flexible)
      Selalu berfikir terbuka dan memperluas wawasan. Menerima saran dan kritik yang membangun dari siapun agar peka terhadap hal-hal yang berkembang di sekitar dan dapat menangkap peluang  yang  ada.
       
    • Berfokus pada bidang usahanya (Focused)
      Berusaha untuk menjadi ahli dalam satu bidang itu lebih bermanfaat. Ketimbang banyak hal namun hanya sekedar kulitnya saja.
       
    • Gigih (Persistent)
      Tak kenal menyerah, tidak mudah dipengaruhi dan berusaha untuk terus berkembang serta memperbaiki kekurangan.
       
    • Sabar (Patient)
      Tenang dan selalu melihat dari sisi positif. Sehingga tidak terpancing untuk  mensikapi setiap permasalahan dan kendala  yang  ada dengan emosi.

    Seseorang  yang hendak menciptakan suatu kegiatan usaha (menjadi wirausaha), wajib memiliki dan mengelola  "The Individual Entrepreneurial Mindset"-nya, seperti  berikut  (McGrath  &  MacMillan,  2000: 339):

    1. "Develop Insight Into The Customers‘ Behavioral Context"

    Seorang  entrepreneur tidak harus memiliki produk yang revolusioner, yang lebih dibutuhkan adalah pemikiran revolusioner ke dalam suatu konteks kehidupan pelanggan, menciptakan ide yang mampu menjadi jawaban bagi masalah utama pelanggan dalam konteks tersebut.

    2. "In An Individual Entrepreneurial Mindset, Everybody Plays"

    Tindakan menyertakan orang lain dalam kegiatan entrepreneurial merupakan proses yang penting. Ide beberapa orang  yang di lebur menjadi satu akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada pemikiran satu  orang saja. Seorang entrepreneur akan belajar banyak hal  mengenai team building dan leadership jika ide ini diterapkan.

    3. "Experiment  Intelligently"

    Perumusan strategi bisnis yang dilakukan oleh entrepreneur lebih berdasarkan eksperimen dan trial-error dari pada analisis dan forecasting.  Eksperimen merupakan tindakan nyata untuk memilih dan memulai proyek ide secara nyata namun dalam skala yang masih kecil, berbeda dengan analisis dan forecasting  yang hanya merupakan perencanaan. Entrepreneur tidak takut terhadap kegagalan, namun demikian resiko yang akan diterima harus diperhitungkan dengan matang, agar kegagalan yang akan terjadi dapat diminimalisasi.

    4. "Spend Imagination Instead of Money"

    Seorang entrepreneur secara rutin menggunakan waktu-waktu tertentu untuk berimajinasi dan berkreasi supaya ide-ide baru muncul. Ide tersebut tidak selalu mengenai pengembangan produk, tetapi juga hal-hal  yang berkaitan dengan operasional dan promosi pemasaran.  Untuk berhasil, entrepreneur lebih bergantung pada imajinasi idenya dari pada besaran  nominal uang yang dimiliki.

    5. "Framing Is Crucial To The Entrepreneurial Leader"

    Tanpa kerangka kerja  yang jelas, semua orang akan terjebak dalam ketidakpastian. Seorang  yang memiliki  entrepreneurial mindset  mampu menyediakan kerangka system pekerjaan yang jelas bagi semua  orang  yang  bekerja bersamanya.  Dengan demikian, setiap orang akan mampu bekerja dengan efektif dan mampu menghadapi tantangan ke depan dengan lebih pasti.

    6. "Be Ruthless With Respect To Priorities"

    Seorang entrepreneur harus mampu memilah tugas, mana yang perlu atau tidak untuk dilakukan, mana yang  sifatnya segera atau dapat ditunda.

    7. "Using Measures Early On is better than using precise ones too late"

    The Individual Entrepreneurial  mindset dapat terus dikembangkan dengan cara menggunakan ukuran atau batasan untuk setiap  persoalan. Beberapa standar harus ditetapkan terlebih dulu oleh seorang entrepreneur  untuk memastikan kualitas pekerjaan dan produk  yang  dihasilkan.

    8. "Pay Attention To The Cost Of Failure"

    Tidak ada seorangpun entrepreneur di dunia ini yang tidak pernah mengalami kegagalan.  Dalam kondisi  yang tidak menentu, seorang entrepreneur hanya memiliki control terbatas terhadap kemungkinan terjadinya kegagalan.  Bahkan kegagalan merupakan harga  yang harus dibayar untuk masuk ke peluang baru berikutnya.  Biaya akan kegagalan (cost of failure)    masih dapat dikontrol, Jika seorang  entrepreneur  memiliki calculated risk taking mindset. Meminimalisasi biaya kegagalan, bukan meminimalisasi jumlah kegagalan.

    Sekarang waktunya untuk memulai. Tidak perlu berfikir terlalu lama dan panjang, mulailah saat ini juga.

    Jika kita terus menerus menghitung – hitung untung atau rugi atas rencana usaha yang akan kita jalankan. Maka usaha tersebut tidak akan berjalan segera.
    Namun jika  secepatnya buka usaha  dan menjalankan maka kita pasti berhitung dan akan terus berhitung.


    Wallahu alam

    Wassalam

     

    Oleh : Anto Ardiansyah
    (dikutip dan disadur dari  www.pengusahamuslim.com)