KIO

  • KIO

    Kukuruyuk… kukuruyuk… terdengar suara ayam berkokok. Suasana masih senyap. Tak lama kemudian iringan adzan menggema di Desa Maju. Kio, membuka mata sambil berdoa. Bismilolahirrohmaanirrohiim… Alhamdulillahilladzii atamanaa wasaqonaa waj alanaa mina muslimin… segera ia membersihkan tempat tidur, mandi dan mengambil air wudlu. Air yang masih dingin membasahi tubuh kecilnya. Kulitnya yang putih tampak pucat karena kedinginan. Setelah siap, segera Kio menhampiri Ayah dan Bundanya. “Ayuk yah…bun… Kio sudah siap ni”. Ayah dan Bunda tersenyum. “Iya sayang…”  jawab bunda dengan penuh kehangatan.

    Setelah dari mushola Kio bersiap-siap memakai baju seragam. Dan tasnya sudah siap untuk dijinjing. Kio menuju ruang makan. Ayah, Bunda sudah siap di tempat makan. “Sudah siap nak?” tanya Bunda. “Sudah donk Bunda…”. Walaupun masih kelas satu Sekolah Dasar, Kio sudah mandiri. “Nah… karena sudah siap, yuk segera berdoa dahulu sebelum makan”. Ayah memimpin doa sebelum makan. Bismillahirrohmaanirrohiim…Allohumma baariklana fiimaa rozaqtanaa waqinaa adza bannnar… Kio makan dengan dengan sayur bayam kesukaaannya. Lauk tempe, buah pisang dan segelas susu sudah membuatnya cukup kuat untuk memulai aktivitas.

    “Bunda… Kio berangkat sekolah dulu ya?” sembari tangan Bunda dan Ayah dicium oleh mulut mungilnya. “Belajar yang sungguh-sungguh nak… Ingat ya, buat senang hati ustadzahmu. Selalu ingat Alloh nak”. “Iya Bunda”.  Jawab singkat Kio sambil mencium pipi Bundanya kemudian lari menuju sepedanya dan berdoa.

    Silir angin pagi membuat Kio semangat mengayuh sepedanya. Sesampai di sekolah Kio langsung bermain dengan Iqbal dan Habibi. Permainan  bola menjadi andalan mereka. Halaman tampak ramai oleh permainan tiga sekawan itu.

    Teettt…teettt…teeett… bel masuk berbunyi. Tiga sekawan musuk di kelas 1. Ustadzah mulai mengajak anak-anak belajar. Tidak lupa doa sebelum belajar diserukan serentak oleh anak kelas 1. Materi kali ini adalah matematika. Habibi sangat tidak suka dengan pelajaran matematika. “Huft… matematika lagi…matematika lagi” keluhnya pada Kio. Kio hanya tersenyum kemudian menyerukan “SEMANGATTT…!!!!” pasti kamu bisa Bib.

    Habibi kurang mampu memahami materi yang diajarkan. Ia mulai malas untuk mengikuti pelajaran. Ustazhah mencoba mendekati dan membantu Habibi. Namun Habibi sudah terlanjur tidak mau. Bel istirahat berbunyi, anak-anak mulai bermain di luar kelas. Hanya Habibi yang berada di dalam kelas. Kio dan Iqbal mencoba mendekati Habibi. “Habibi, main yuk…” ujar Kio dan Iqbal. Habibi tetap tidak mau. “Kata Bundaku, kita harus membuat hati ustadzah senang Bib. Tadi Ustazhah sedih lho lihat kamu tidak mau belajar” bujuk Kio. “Habisnya susah banget Ki….”. “Tadi Ustadzah sudah mau bantuin kamu kan?” lanjut Iqbal. “Iya-iya… besok tidak diulangi lagi”. “Nah… gitu donk itu baru namanya Habibi, selalu semangat”.

    Tiga sekawan mulai bermain kembali dengan penuh keceriaan. Tawa canda mereka meramaikan isi lapangan. Kio, Iqbal dan habibi mengajak teman-teman yang lain bermain bola bersama. Tak terasa bel masuk berbunyi. Ustadzah mulai masuk ke kelas. Anak-anak sudah siap memulai pelajaran. Sebagai motivasi, ustadzah mengajak anak-anak bermain dan bernyanyi bersama. Ustadzah kemudian mengajak anak-anak ke taman. “Masih semangat anak-anak…!!!”. “Semangat…!!!”. Jawab serentak murid kelas satu. Suasana menjadi ramai. Habibi sangat senang. Di sana anak-anak belajar membuat cerita serta berhitung jumlah bunga yang ada di taman. “Wah… Habibi sudah bisa berhitung sekarang”. Habibi hanya tersipu malu. Dia mulai menyukai pelajaran matematika.

    Murid kelas satu mulai masuk ke kelas dan bersiap-siap untuk pulang. Tidak lupa mereka membaca doa bersama. Sampai di depan rumah Kio membaca doa kemudian membuka pintu. “Bundaaa…. “. Teriak Kio memanggil Bundanya. “Eiiits… kok tidak pakai salam nak”. “Ups… lupa Bun”. Kio nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Assalamualaikum Bunda…”. Setelah mengecup tangan Bunda, Kio memeluk Bunda dengan manja. “Waduh…tumben ni meluk-meluk Bunda pasti ada maunya”. “Hemmm… Bunda gitu deh. Terima kasih Bunda, sudah mengajarkan banyak hal kepada Kio”. Pelukan hangat serta kata-kata manis seorang anak membuat hati Bunda meneteskan air mata. Air mata bahagia …. 

     Oleh : Ustadz Afi