Dinamika Pendidikan di Era Pandemi Covid-19

  • Dinamika Pendidikan di Era Pandemi Covid-19

    Dinamika Pendidikan di Era Pandemi Covid-19

    Ditulis oleh Lailatul Mua’rofah, S.Pd.I.

    Awal Maret 2020, pemerintah sudah mulai siaga untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang akrab disapa Corona di negeri tercinta ini. Berbagai macam cara sudah dilakukan, salah satunya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Alhasil sektor pendidikan adalah yang paling besar merasakan dampaknya. Semua sekolah, baik negeri maupun swasta, ditutup. Sampai saat ini sekolah belum bisa melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka seperti halnya sebelum pandemi.

    Proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memang tidak selalu menjadi hal yang mudah untuk dijalani oleh semua pihak, baik pihak sekolah, anak-anak, orangtua maupun guru sendiri selaku implementator di lapangan. Ada beberapa kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam kondisi seperti ini. Mari kita lihat dari sudut pandang masing-masing.

    Sudut Pandang Anak

    PJJ mau tidak mau harus dijalani oleh anak-anak dalam kondisi pandemi Covid-19 ini. Dampak yang dirasakan oleh anak antara lain:

    1. Stres karena kesulitan memahami pelajaran

    Ada sejumlah faktor yang bisa memicu perasaan tertekan, bahkan stres pada anak-anak, khususnya di usia remaja dalam proses belajar dari rumah. Salah satunya adalah kesulitan memahami materi pelajaran. Kesulitan ini membuat mereka tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sekolahnya dengan baik dan optimal, sehingga berujung pada tekanan psikis anak. Dalam konteks ini, peran orangtua dalam mendampingi anak-anak menjadi sangat penting. Sayangnya, tidak setiap orangtua memiliki waktu dan atensi yang sesuai dengan kebutuhan anak. Akibatnya, tidak jarang anak-anak menjadi merasa kurang mendapatkan support dan perhatian dari orangtua sehingga bisa berakibat yang tidak diinginkan.

    1. Sempitnya ruang gerak dan komunikasi anak dengan teman sekolahnya

               Selain kesulitan memahami pelajaran, ruang gerak anak juga sangat terbatas. Mereka sulit bersosialisasi dengan teman sekolahnya. Hal ini mengakibatkan kejenuhan dan kebosanan anak dalam belajar.

    1. Ancaman putus sekolah

    Ada lagi dampak yang lebih serius dari efek pandemi ini, yakni adanya ancaman putus sekolah. Pandemi ini sudah memperburuk perekomian masyarakat. Tidak hanya sekolah yang ditutup, banyak sekali tempat usaha yang juga harus ditutup karena dampak pandemi. Hasilnya adalah PHK yang banyak dirasakan oleh sebagian orangtua. Resiko putus sekolah bisa saja terjadi akibat anak terpaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

    1. Tumbuh kembang anak kurang optimal

                     Kendala lain yakni tumbuh kembang anak kurang optimal, baik dari sisi kognitif maupun psikososial. Dari sisi kognitif, anak susah memahami materi yang diberikan. Kesulitan perkembangan karakter juga dialami karena minimnya role model selama di rumah. Hal ini disebabkan karena orang tua tidak memiliki banyak waktu atau sibuk bekerja. Dari sisi psikososial, perkembangan anak kurang optimal karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop atau hape daripada keluar rumah untuk berinteraksi dengan sekitar.

    1. Kekerasan-kekerasan dalam rumah tangga

    Kekerasan dalam rumah tangga bisa saja terjadi apabila orangtua sangat stres dengan keadaannya di saat pandemi. Mungkin faktor ekonomi yang sulit ditambah dengan beban tugas anak yang menuntut untuk selalu didampingi. Kondisi ini bisa memicu terjadinya kekerasan dalam keluarga.

    Sebenarnya yang perlu dilakukan adalah saling memahami posisi antara anak dan orang tua. Anak seharusnya memahami kondisi orangtua yang sibuk bekerja, sehingga anak mengetahui kapan waktu luang yang pas bagi dirinya untuk bercerita terkait kendala belajar yang dialaminya. Hal sebaliknya, ketika orang tua masih berada dalam kondisi stres dan belum bisa menangani stres yang juga dialami oleh anak-anak, cobalah untuk membicarakannya, lalu berikan pengertian pada anak. Untuk mengatasi kejenuhan belajar anak yang perlu dilakukan dan difasilitasi oleh orang dewasa, baik guru maupun orang tua di antaranya adalah: melakukan zoom meeting atau pertemuan belajar dalam bentuk small grup (skala kecil) sebagai terapi kebosanan dan kejenuhan anak.

     

    Sudut Pandang Orangtua

    1. Keterbatasan waktu untuk membersamai belajar

    Tidak semua orangtua punya waktu luang dan cukup untuk membersamai anak belajar dari rumah. Meskipun di era pandemi ini peran orangtua adalah secure based bagi anak-anaknya. Dalam memandang persoalan ini harus dari berbagai sudut pandang. Di satu sisi orang tua mempunyai peran vital dalam roda perekonomian keluarga agar tetap survive memenuhi kebutuhan  kehidupan keluarganya. Sementara di sisi lain orangtua harus mendampingi anak-anaknya dalam kegiatan belajar dari rumah.

    Yang perlu dilakukan orangtua dalam hal ini adalah meluangkan waktu atau quality time dengan anak untuk membersamai anak belajar. Ketika orangtua belum siap mendengarkan keluhan anak, orangtua bisa meminta anak menunggu sampai orang tua siap mendengarkan keluhan. Hal itu sudah membuka kesempatan bagi anak anak untuk bercerita. Tetapi jika memang mendesak, sebaiknya orangtua berkoordinasi sehingga meninggalkan pekerjaannya sejenak. Orangtua juga harus selalu menjadi role model atau teladan yang baik bagi anak-anaknya saat di rumah.

    1. Tidak memiliki kemampuan untuk membantu menyelesaikan tugas anak

    Selain beban ekonomi dan pekerjaan, tidak jarang orangtua ditambahi beban menyelesaikan tugas anak yang sebenarnya mereka kesulitan untuk menyelesaikannya. Alhasil kondisi stres juga terjadi pada orang tua yang kadang berefek pada sikap yang kurang bijak saat membersamai anak. Dalam kondisi ini, hal yang bisa dilakukan orangtua adalah membersamai anak untuk searching google. Orangtua juga bisa mendatangkan guru les untuk membantu anak memahami materi.

    1. Kesulitan ekonomi

    Sebagai efek pandemi, tidak jarang ada anak yang harus pindah sekolah karena orang tua merasa kurang mampu membiayai di sekolah A. Orangtua kemudian memaksa anak bersekolah di sekolah B yang biaya pendidikanya lebih efisien. Ada juga beberapa orangtua yang memilih untuk tidak dulu menyekolahkan anaknya tahun ini di level PAUD. Dalam kondisi seperti saat ini, mungkin hal ini bisa menjadi solusi bagi orang tua supaya anak tetap mendapatkan layanan pendidikan dari sekolah.

    Sudut Pandang Guru

    Kegiatan pembelajaran pada saat PJJ membuat guru harus inovatif. Strategi pembelajaran yang diterapkan sebelumnya perlu disesuaikan dengan situasi pandemi dengan memanfaatkan teknologi informasi. Ini perlu dilakukan agar proses belajar tetap dapat berlangsung. Realitanya, proses yang berjalan tetap berbeda dibanding biasanya. Dalam situasi seperti ini, patut pula diduga bahwa sejumlah guru yang menghadapi kendala dan keterbatasan akses teknologi informasi, telah mempertimbangkan dan mempraktekkan beragam strategi darurat dengan tujuan agar proses belajar tetap berlangsung. Praktek baik dalam situasi darurat biasanya akan muncul dari para guru karena nuraninya akan terus terusik apabila muridnya merasa tak bahagia. Guru akan melakukan beragam cara agar proses belajar yang membahagiakan tetap berlangsung walaupun ia menyadari bahwa kenyataannya tetap tidak sama seperti biasanya saat kondisi normal.

    Sudut Pandang Sekolah

    Situasi pandemi ini adalah masa sulit, khususnya bagi  sekolah swasta. Di mana semua cost pengeluaran tetap harus berjalan. Operasional dan kebutuhan sapras serta gaji guru harus tetap dikeluarkan, sedangkan banyak pemasukan SPP yang tersendat karena sulitnya ekonomi orangtua akibat dampak pandemi. Yang harus dilakukan sekolah dalam hal ini adalah berkoordinasi dengan komite terkait masalah yang dihadapi. Saling menguatkan antara sekolah dan orangtua dapat dilakukan, misalnya dengan memberikan keringanan kepada orangtua. Baik itu berupa pemberian keringanan tempo pembayaran SPP, ataupun pemangkasan biaya pendidikan yang tidak dilakukan selama PJJ. Bisa juga dilakukan  subsidi silang bagi orang tua yang mampu, agar bersama-sama meringankan orangtua yang terdampak Covid supaya bisa bergerak dalam keadaan ini.

    Mitigasi Pembelajaran

    Dalam kondisi ini, apa tugas kita untuk menyelamatkan pendidikan di negara ini? Sekolah harus melakukan transformasi pembelajaran dengan memanfaatkan jendela teknologi informasi sebagai jembatan untuk tetap berinteraksi. Dengan segala tantangannya, sekolah dan rumah harus bahu membahu mendorong keberlangsungan proses belajar. Akhlak dan keteladanan guru dan orang tua menjadi salah satu kuncinya. Masa adaptasi berlangsung dengan penuh dinamika. Logika dan nalar serta empati dikembangkan dengan memanfaatkan situasi pandemi sebagai bahan belajar, beraktivitas dan berkarya. Kepemimpinan kolaboratif sekolah dan rumah menemukan jalannya untuk memetik hikmah dari situasi yang dihadapi. Kepedulian kepada sesama warga yang terdampak juga tumbuh seiring dengan kerja-kerja kolaboratif dalam komunitas yang terbuka. Silaturahmi orangtua dengan guru dalam jaringan menjadi terwujud, justru dalam situasi seperti ini.

    Dan pada akhirnya dalam proses pendidikan, intelektualitas bisa dibentuk dengan ilmu, profesionalitas bisa dibentuk dengan kompetensi, tetapi spiritualitas hanya bisa ditularkan dengan cinta dan ketulusan.