Pindah Main #GURURELAWAN

  • Pindah Main #GURURELAWAN

    Pindah Main

    #GURURELAWAN

    Banyak yang menanyakan tentang keberangkatanku jadi guru relawan ke lombok.

    Ada yang bilang, " ngapain mau jauh - jauh jadi relawan ke lombok ".

    Lombok jauh ? Nggaklah, di tinggal merem bentar juga nyampe, ya kaaan ? Yaiyalah naik pesawat, coba naik kapal, bisa merem berkali - kali baru nyampe. Oh ya, masalah armada awalnya ada saudara yang menghawatirkanku ketika aku ijin mau ke lombok dengan naik kapal, karena aku kira akan di berangkatkan di batch awal dengan naik kapal. Dia bilang "kenapa harus naik kapal, naik pesawat aja" aku jawabnya enteng "lha emang aku mau piknik,  mungkin harus bawa beberapa bantuan yang memang harus di angkut dengan kapal ".

    Eee ternyata, aku akhirnya di berangkatkan naik pesawat dan berasa piknik beneran, karena disana di suguhi bentang alam yang luar biasa keren, memang bener kan ya perkataan adalah doa..

    Gimana nggak berasa piknik, kami di tempatkan di sembalun yang punya julukan "berdinding bumi beratap langit", karena memang sembalun itu dikelilingi oleh gunung & perbukitan, salah satu gunung yang tersohor adalah gunung rinjani. Kebayang kan ya, orang suka naik gunung di suguhi gunung – gunung yang megah tapi nggak bisa naik karena jalur pendakian rusak akibat gempa, kan gemes banget. Tiap hari kalau keluar tenda, tengok ke kiri viewnya langsung rinjani, cuma bisa say “hai”.

    Kalo di sembalun ada sekolah alam seru kali ya, hari senin belajarnya di bukit selong, selasa ke bukit pergasingan, rabu ke gunung nanggi terus puncak temanya ke rinjani..hahaha

    Karena memang sehari - harinya beraktifitas dengan anak - anak, ketika di tugaskan salamAid untuk jadi #gururelawan ya berasa cuma pindah main. Ya, kegiatan ngajar di sekolah alam aku anggap sebagai bermain, tentunya tidak cuma bermain dengan tujuan happy saja tapi ada edukasi dalam setiap permainan, terlebih lagi di sekolah alam aku ngajar jenjang paud dimana kegiatannya belajar sambil bermain. Dengan bekal itulah aku berangkat ke lombok, ingin berbagi keceriaan dengan anak - anak di sana, menyungging senyum di setiap mulut mungilnya, karena mereka saudara kita yang juga punya hak untuk belajar dan menikmati keceriaan.

    Anak - anak disana menyambut baik kedatangan kami para #gururelawan, katanya senang ada kakak - kakak relawan yang ngajak belajar & bermain, bahkan mereka hafal nama kakak - kakak guru relawan yang datang dari periode awal sampai terakhir.

    Belajar bersama mereka itu seru, perbedaan bahasa tak jadi masalah justru kadang menimbulkan gelak tawa. Kayak pas aku ngajar di Paud, aku nunjuk hewan dan bilang " itu ayam" langsung ada anak yang teriak " bukan bu, itu manuk" , ketawalah semua yang ada di situ. Ya ternyata di sana menyebut ayam itu manuk, lah kalo di jateng manuk itu burung.

    Guru – gurunya juga menyambut baik kedatangan kami. Ketika jam istirahat atau setelah pulang sekolah biasanya kami sharing tentang materi ataupun metode belajar. Seperti ketika di paud, kami membuat rekaman sederhana tentang lagu anak beserta gerakannya. Ketika di SD kami sharing tentang metode pembelajaran dan tak lupa ditemani kopi sembalun yang terkenal itu.

    Kami disana ngajar di jenjang Paud sampai SD bergantian setiap harinya. Karena aku disana sudah 3 bulan pasca gempa, kegiatan belajar mengajar sudah berjalan normal walaupun masih ada yang belajar di bawah tenda mereka tetap semangat sekolah. Materi yang di sampaikan menyesuaikan pihak sekolah tapi cara penyampaian kami tetap ala sekolah alam dan anak – anak sangat antusias mengikutinya.

    Selain ngajar di sekolah formal, kami juga berkegiatan di rumah baca dari jam 14.00 sampai menjelang maghrib. Rumah baca tersebut didirikan di area hunian sementara di lapangan sepak bola desa sembalun bumbung. Kegiatan di rumah baca bervariasi, ada craft, storrytelling, outbond, cerdas cermat, dan lain - lain dan mereka selalu antusias mengikutinya, selalu penasaran dengan kegiatan yang akan kami lakukan berikutnya. Kami pernah terlambat membuka rumah baca karena harus distribusi bantuan dulu, dan ternyata anak – anak sudah menunggu rumah baca buka, betapa semangatnya mereka.

    Disana aku ketemu anak – anak hebat, ada anak yang gemar baca bahkan hampir semua buku di rumah baca sudah ia baca. Ada Adit yang sangat pendiam tapi ternyata pintar merangkai batu baterai dan dinamo jadi alat sepert kipas. Ada Ridho yang sangat tanggap dan cekatan merapikan rumah baca. Merekalah penyemangat untuk terus melakukan hal – hal seru yang bermanfaat.

    Semoga apa yang sudah kami berikan bermanfaat, membawa mereka ke kondisi yang lebih baik lagi, #lombokbangkit. Amiin

     

    Tri Muktiningsih ( Sekolah Alam Kendal Auliya )